JAKARTA
“Nak, Jakarta itu bukan melulu monas yang tiangnya megah menopang bongkahan emas, bukan cuma wahana bermain mewah yang seolah mampu membeli semua mimpi anak-anak, bukan hanya gedung-gedung bertingkat yang gemerlapan dengan lampu ribuan watt.
Jakarta itu Nak, adalah penghamburan waktu luar biasa akibat macet di mana-mana, adalah banjir setinggi lutut tiap kali musim hujan tiba, adalah manusia paruh baya yang tidur menggigil di kolong jembatan. Jakarta adalah bayi masih merah yang diajak mengemis di bawah terik matahari, adalah perempuan hamil yang berlarian mengejar bus kota, lalu kena sikut dan jatuh tersungkur waktu sedang berebut di pintu masuk. Jakarta, adalah juga pemuda-pemuda yang gentayangan di pinggir jalan, sambil mengamen sambil menodong sebab perut mereka lapar.
Jakarta, Nak, sudah penuh sesak oleh kemiskinan. Ia tidak mengharapkan kedatanganmu. Sementara becak tua yang kau kayuh saban hari melewati seluruh penjuru kampung sampai betismu yang kerempeng itu bengkak sebesar kelapa, jauh lebih membutuhkanmu.” sahut Ibuku waktu kuutarakan padanya niat hendak merantau ke Jakarta.
Jakarta, November 2009
(sepanjang perjalanan Sudirman-Grogol-Tangerang)